Rusia 2018 dalam Bayang-bayang Skandal Suap dan Potensi KonflikMoskow – Piala Dunia 2018 memang baru akan dilangsungkan empat tahun lagi. Namun, sejak sekarang turnamen yang rencananya akan digelar di Rusia itu telah ramai dibicarakan lantaran dua hal: isu suap dan keamanan.

Rusia terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 pada bulan Desember 2010. Dalam proses bidding, mereka mengalahkan beberapa negara lain yang juga mencalonkan diri yaitu Portugal-Spanyol, Belgia-Belanda, dan Inggris.

Yang kemudian jadi masalah adalah ada dugaan Rusia mendapatkan hak menggelar Piala Dunia lewat cara yang tidak fair. Mereka diduga melakukan penyuapan terhadap sejumlah anggota Komite Eksekutif FIFA — yang punya hak suara dalam voting untuk menentukan tuan rumah Piala Dunia.

Dugaan tersebut muncul lantaran proses bidding Piala Dunia 2018 dilakukan bersamaan dengan Piala Dunia 2022. Qatar, yang terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, santer dikabarkan terlibat suap. Kalau bidding Piala Dunia 2022 tidak bersih, bidding untuk Piala Dunia 2018 pun dipertanyakan.

FIFA tak tinggal diam menyikapi munculnya dugaan suap tersebut. Sejak tahun 2012, mereka melakukan investigasi yang dipimpin oleh mantan pengacara Amerika Serikat, Michael Garcia.

Garcia nantinya akan melaporkan hasil temuannya kepada Hans-Joachim Eckhart, ketua komite etik independen untuk masalah ini. Akan tetapi, hasil investigasi yang dilakukan oleh Garcia tidak akan diumumkan kepada publik.

“Kami tidak punya update mengenai pengiriman laporan dari badan investigasi komite etik independen,” jelas juru bicara FIFA yang dikutip SB Nation.

“Harap dicatat bahwa sesuai dengan Artikel 28 dan 36 dari Kode Etik FIFA, laporan akan diserahkan kepada badan penyelesaian. Tapi, yang akan diumumkan ke publik hanya keputusan final dari badan penyelesaian.”

Di luar isu suap, situasi keamanan di Rusia dan sekitarnya dalam beberapa waktu terakhir juga mengkhawatirkan. Ketegangan negara tersebut dengan Ukraina makin meningkat dan konflik pun kian meruncing.

Masalah berawal dari “pencaplokan” wilayah Crimea oleh Rusia pada bulan Maret silam. Lewat referendum, rakyat Crimea telah memilih untuk bergabung dengan Federasi Rusia dan melepaskan diri dari Ukraina.

Tak berselang lama setelah “pencaplokan” Crimea, masalah lainnya muncul. Kota Donetsk di timur Ukraina, yang dekat dengan perbatasan dengan Rusia, bergejolak. Sejumlah aktivis pro-Rusia mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat Donetsk. Hal ini ditegaskan lewat referendum pada 11 Mei 2014. Namun, Ukraina tak mengakui hasil referendum tersebut.

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina memuncak dalam beberapa hari terakhir. Jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 yang menewaskan 283 penumpang dan 15 kru membuat kedua negara saling tuding.

MH17 jatuh di dekat Hrabove, Donetsk, Kamis (17/7/2014) lalu. Pesawat tersebut diduga jatuh karena terkena rudal yang ditembakkan dari darat. Pemberontak pro-Rusia dan pemerintah Ukraina saling tuding terkait siapa yang menembak jatuh pesawat nahas tersebut.

UEFA yang melihat potensi konflik antara Rusia dan Ukraina telah mengambil langkah preventif. Mereka mencegah klub Rusia dan Ukraina saling berhadapan di kompetisi mereka musim depan, baik di Liga Europa maupun Liga Champions.

Kalau situasi keamanan di Rusia dan sekitarnya tak kunjung kondusif, maka penyelenggaraan Piala Dunia 2018 akan terancam. Apalagi semua kota yang disiapkan oleh Rusia untuk menggelar pertandingan berada di wilayah barat, yang berdekatan dengan perbatasan dengan Ukraina.

Artikel: kontakperkasa futures.