SC Paderborn Cerita dari Kota Kecil di Puncak BundesligaPaderborn – Siapakah SC Paderborn 07 dan seberapa besar mereka jika dibandingkan dengan Bayern Munich? Jawabannya adalah mereka hanya sebuah klub kecil dari kota kecil, dan jika dibandingkan dengan Bayern mereka bukanlah siapa-siapa.

Jangankan berderet-deret trofi mewah di lemari, untuk sekadar bertahan di kasta Bundesliga 2 saja Paderborn kadang-kadang harus bersusah payah. Dari 18 tim yang ada di divisi di bawah Bundesliga itu, kerap bergelut dalam pertarungan untuk lepas dari jerat degradasi. Pada musim 2007/2008 mereka degradasi dan turun kasta ke 3.Liga, namun sukses kembali ke Bundesliga 2 pada musim 2009/2010.

Sejak saat itu, status Paderborn seolah-olah hanya jadi pelengkap di Bundesliga 2, hanya bolak-balik dari papan bawah, lalu papan tengah, lalu kemudian papan bawah lagi. Baru pada musim 2013/2014 peruntungan mereka berubah. Tampil sebagai runner-up Bundesliga 2, mereka sukses promosi ke Bundesliga. Bagi Paderborn, itu sama mewahnya dengan deretan trofi di lemari Bayern karena itu pertama kalinya mereka bisa bermain di Bundesliga.

Cerita bahwa tim promosi langsung tampil mengejutkan atau tampil bagus memang bukan cerita baru. Dulu sekali di Serie A kita pernah mengenal cerita ini dibuat oleh Chievo, Swansea City di Premier League pun demikian. Di Jerman ada cerita soal Kaiserslautern yang langsung juara Bundesliga pada musim 1997/1998 kendati status mereka hanyalah tim promosi. Di luar Kaiserslautern, Hoffenheim juga pernah mengejutkan.

Tapi, bolehlah cerita soal Paderborn ini untuk disimak barang sejenak. Sadar diri mereka bukan siapa-siapa di Bundesliga, Direktur Olahraga mereka, Michael Born, Paderborn sempat melabeli timnya dengan julukan “The Biggest Outsider Ever”. Dalam artian bebas, Born ingin menggambarkan bahwa timnya adalah tim paling semenjana, tim paling tidak diperhitungkan, atau ‘Si Bukan Siapa-Siapa’ yang paling kecil yang pernah ada dalam sejarah Bundesliga.

Kota Paderborn sendiri terletak di antah berantah. Jumlah penduduknya tidak sampai 150 ribu dan letaknya berjarak 100 kilometer di timur Dortmund, kendatipun suasana kotanya sendiri cukup tenang dan rapi. Kantor Paderborn terletak di salah satu bangunan di dalam kota kecil tersebut.

Kantornya pun tidak besar, hanya sebuah flat yang berdiri tidak jauh dari lapangan latihan mereka. Paderborn tidak punya tim scouting, tugas untuk mencari pemain diserahkan kepada Born selaku Direktur Olahraga. Tentu, Born tidak pergi ke stadion-stadion besar untuk memantau pemain bintang. Dia pergi ke liga-liga terbawah untuk mencari pemain muda dan kalaupun mendekati pemain yang relatif lebih punya nama, maka pemain itu hanyalah pemain buangan dari tim-tim yang lebih besar.

 Sebut saja Marvin Duksch yang dipinjam dari Borussia Dortmund, Lukas Rupp dari Borussia Moenchengladbach, Elias Kachunga yang juga dipermanenkan status pinjamannya dari Gladbach, atau Rafael Gomez yang sejak 2008 bermain di La Liga bersama Getafe. Kachunga jadi salah satu bintang sejauh ini dengan torehan tiga golnya dari empat pertandingan.

Dengan berkandang di Benteler Arena yang hanya berkapasitas 15.300 tempat duduk, tiket musiman Paderborn pun cepat habis. Setiap musimnya, mereka hanya menjual 11.000 tiket musiman dan kini di depan kantor mereka, terpampang tulisan bahwa tiket musiman itu sudah sold out. Habisnya tiket musiman itu menunjukkan dua hal: yang pertama menegaskan soal kecilnya basis pendukung mereka, yang kedua adalah antusiasme pendukung kini memuncak. Ini tak lain disebabkan karena kesuksesan mereka melaju ke Bundesliga.

“Klub ini terus berkembang dan sejak Mei, pemegang tiket terusan bertambah dari yang tadinya hanya sekitar 2.000 menjadi 10.000,” ucap Born.

Kendati demikian, Born juga menegaskan bahwa kehadiran Paderborn di Bundesliga bukan hanya untuk bertukar kostum dengan pemain-pemain dari klub yang lebih besar. Mereka ingin bertahan di Bundesliga untuk kemudian berkembang perlahan-lahan menjadi klub yang lebih besar.

Setidaknya, untuk sejauh ini, Paderborn layak untuk diapresiasi. Dari empat pertandingan, mereka meraih dua kemenangan dan dua hasil imbang –belum pernah kalah– dan kini mengoleksi 8 poin. Alhasil, tim besutan pelatih Andre Breitenreiter ini duduk di puncak klasemen, meski jumlah poinnya sama dengan milik Bayern, Mainz, dan Hoffenheim. Tentu, ini juga terbantu dengan fakta bahwa beberapa tim besar tersandung dan terpeleset akhir pekan lalu. Bayern hanya bermain imbang, sementara Bayer Leverkusen dan Borussia Dortmund kalah.

“Toko merchandise untuk fans kami tengah mempertimbangkan untuk membuat wallpaper dari tabel klasemen saat ini,” kata Born lagi setengah bercanda.

Tentu, tidak mudah pula bagi tim seperti Paderborn untuk tetap berada di atas. Hoffenheim pernah duduk di puncak teratas klasemen selama beberapa waktu untuk kemudian turun lagi di akhir musim. Tapi, seperti yang dikatakan Born, target Paderborn memang bukan untuk langsung berada di deretan teratas.

Kini ujian berlanjut untuk mereka. Selasa (23/9/2014), mereka akan bertandang ke Allianz Arena untuk menghadapi Bayern. Akankah ada kejutan lagi dari ‘Si Bukan Siapa-Siapa’ ini? (hnm)

Artikel: kontakperkasa futures.