Sebuah Klub Denmark yang Dijalankan Tanpa Mata dan Telinga Manusia KontakPerkasa Futures, Baru terbentuk di tahun 1999, dan tak pernah mengikuti turnamen Eropa, pastilah tak banyak yang pernah mendengar nama FC Midtjylland. Padahal, inilah klub terbaik di Denmark musim lalu.

Pada kompetisi Liga Super Denmark musim 2014/2015, FC Midtjylland menduduki peringkat pertama dengan nilai 71 dari 33 pertandingan. Mereka membuat dua klub Denmark paling terkenal, FC Copenhagen dan Brondby IF, harus puas di tempat kedua dan ketiga.

Itulah untuk pertama kalinya FC Midtjylland menjuarai Liga Denmark. Sebelumnya, catatan terbaik mereka di level tersebut adalah runner-up, berturut-turut di musim 2006/2007 dan 2007/2008.

Satu hal yang sangat mencolok dari tim ini adalah, mereka mencetak setidaknya satu gol dari set piece dalam satu pertandingan. Dan dalam satu musim kemarin, ada tiga  pertandingan yang mampu mereka lewati dengan mencetak 4 gol dari bola mati. Peluang yang berhasil mereka ciptakan pun sebagian besar dari bola mati. Tercatat, hampir 50% peluang FC Midtjylland berasal dari eksekusi bola mati.

Buat mereka, hal ini bukanlah kebetulan. Sebab, mereka memang serius merencanakan eksekusi bola mati pada setiap pertandingannya. Setiap bulan akan diadakan rapat besar untuk membicarakan pola eksekusi bola mati, yang dihadiri mulai dari staf pelatih, seluruh pemain, hingga presiden klub.

Mereka juga sempat mendatangkan seorang pemain american football dalam rapat tersebut. Pertimbangannya, american football adalah permainan yang penuh dengan skenario-skenario saat menyerang maupun bertahan. Karena itu sangat cocok untuk membuat perencanaan untuk skenario bola mati FC Midtjylland.

FC Midtjylland juga memiliki Bertek Sylwestrzak, seorang pelatih ahli dalam hal tendangan, untuk mengasah kemampuan eksekusi bola mati pemain-pemainnya. Menurut presiden FC Midtjylland, Rasmus Ankersen, seorang pemain golf saja melakukan 20 ribu kali pukulan untuk meningkatkan kemampuannya. Maka seharusnya pemain sepakbola juga bisa melakukan hal yang sama.

Namun Ankersen tidak setuju jika dikatakan bahwa eksekusi bola matilah yang membuat FC Midtjylland mampu mejadi juara Liga Denmark. Menurutnya, catatan set piece FC Midtjylland memang fantastis, namun hal ini tidak akan bisa bertahan selamanya. Terdapat hal lain yang menjadi senjata utama timnya. Mereka memiliki satu model yang mampu menggabungkan data dan analisa pelatih sehingga bisa mengetahui kondisi performa mereka. Model yang awalnya digunakan untuk berjudi sepakbola ini diaplikasikan untuk menjalankan operasional FC Midtjylland.

Semua berawal ketika di bulan Juli 2014 lalu, saat Mathew Benham membeli sebagian besar saham FC Midtjylland. Ketika itu FC Midtjylland memang sedang terancam bangkrut sehingga sangat membutuhkan suntikan dana. Selain FC Midtjylland, Benham juga sudah memiliki klub Divisi Championship Liga Inggris, Brentford FC. Di samping sebagai pemilik klub, ia juga merupakan seorang pejudi yang memiliki satu perusahaan judi sepakbola yang cukup besar.

 

Keputusan Benham untuk membeli klub Denmark ini tidak lepas dari saran Ankersen, yang menjadi teman dekat Benham setelah Benham membaca buku Ankersen yang berjudul, ‘The Gold Mine Effect’.

FC Midtjylland dulu sudah diperkuat Ankersen saat masih aktif bermain sebagai pemain sepakbola. Ia bergabung dalam kesebelasan ini sejak masih junior dan sempat menjadi pelatih setelah pensiun. Karena itulah, Ankersen cukup mengetahui banyak hal soal FC Midtjylland. Saat ini Ankersen baru berusia 32 tahun.

Namun, Benham tidak sekadar membeli FC Midtjylland dan mempercayakannya begitu saja kepada manajemen. Ia memiliki satu proyek besar untuk bisa menjalankan sebuah kesebelasan berdasarkan data-data statistik dan sains.

Pada dasarnya Benham adalah seorang pejudi yang sudah sangat akrab dengan data-data pemain untuk memprediksi kemenangan. Dia mengatakan bahwa ia memiliki satu model yang bisa menilai performa tim dan pemain. Dan dengan model ini ia berhasil sukses sebagai pejudi hingga bisa membeli dua klub di Eropa.

Karena itulah Benham cukup percaya diri untuk bisa menjalankan FC Midtjylland dengan basis data dan sains. Menurut Ankersen, model yang dimiliki Benham memang belum sempurna. Namun, mengambil keputusan berdasarkan model ini masih lebih baik ketimbang mengambil keputusan berdasarkan insting manusia.

“jika model yang dimiliki Benham tidak bagus, maka jangankan membeli FC Midtjylland, membeli Brentford pun dia tidak akan mampu,” kata Ankersen.

Salah satu aplikasi penggunaan model milik Benham pada FC Midtjylland adalah saat mereka merekrut pemain tengah asal Finlandia, Tim Sparv. Berdasarkan data statistik, Sparv sebenarnya tidak menunjukan hal yang istimewa. Sebagai gelandang bertahan, kemampuannya dalam berduel di udara, tekel, maupun intersepnya biasa-biasa saja. FC Midtjylland bahkan sudah memiliki gelandang bertahan yang memiliki catatan lebih baik dari Sparv.

Namun, model yang dimiliki Benham bisa menangkap bahwa ada keunggulan lain yang dimiliki Sparv. Statistik Sparv tidak bagus bukan karena dia tidak bekerja dengan baik. Dia justru dianggap bekerja sangat baik sehingga dia tidak perlu melakukan banyak aksi untuk mengamankan gawang timnya. Ankersen mengatakan bahwa Sparv mampu melihat bahaya sebelum bahaya tersebut terjadi.

 

Selain itu, kedatangan Sparv juga dipengaruhi oleh klub tempat Sparv bermain, Greuther Furth. Ankersen mengatakan bahwa menurut perhitungan, tim yang kini berada di Bundesliga 2 itu sebenarnya cukup layak untuk bermain di kompetisi sekelas Liga Primer Inggris. Karena itulah, Sparv yang bermain baik di Greuther Furth dinilai sangat layak untuk diboyong ke Midtjylland.

Model ini pula yang membuat Benham memecat manajer dari dua kesebelasan miliknya, FC Midtjylland dan Brentford FC. Padahal dilihat dari prestasinya di akhir musim, kedua tim tersebut memiliki catatan cukup baik. FC Midtjylland menjadi juara Liga Denmark, sedangkan Brentford FC berhasil menduduki peringkat kelima Divisi Championship.

Namun hal ini tidak membuat Benham puas dengan performa kedua manajernya. Menurutnya, sepakbola adalah olahraga yang sangat rentan dengan keberuntungan. Hasil akhir sebuah pertandingan sepakbola, sangat dipengaruhi oleh keputusan wasit, kegagalan menyelesaikan keputusan emas, dan beberapa faktor lain yang tidak bisa diprediksi. Karena itulah, banyak tim bagus yang meraih kemenangan lebih sedikit.

Menurut benham dan Ankersen, sebuah tim akan dikatakan bagus bukan karena mereka berhasil berada di papan atas klasemen, namun ketika model milik Benham mengatakan bahwa kesebelasan tersebut baik. Menurut model yang dimiliki Benham, Brentford yang berada di posisi kelima klasemen akhir sebenarnya hanya merupakan tim dengan performa peringkat ke-11. Hal inilah yang kemudian membuat ia memecat Mark Warburton dari posisi manajer Brentford.

Begitu pula dengan FC Midtjylland. Menurutnya, pesaing utama mereka di Liga Denmark, FC Copenhagen, mengalami banyak ketidakberuntungan dalam satu musim. Hal inilah yang kemudian membuat FC Midtjylland mampu berada di atas FC Copenhagen, bukan karena performa yang baik. Glen Riddersholm, manajer yang sudah menangani FC Midtjylland sejak tahun 2011 pun harus dipecat oleh Benham.

Terkesan arogan memang, namun Ankesen sudah mengatakan di awal bahwa ia ingin menjalankan kesebelasan yang tidak dipengaruhi oleh mata dan telinga manusia — meski juga tidak 100% berlaku seperti itu. Insting manusia mereka tetap gunakan untuk menangkap hal-hal yang tidak bisa ditangkap oleh model. Dengan begitu akan lebih mempertajam keputusan yang diambil.

Mungkin memang tidak semua orang akan setuju dengan cara menjalankan kesebelasan sepakbola ala Mathew Benham dan Rasmus Arkensen ini. Ankersen juga mengatakan bahwa mereka belum membuktikan apapun. FC Midtjylland baru akan memulai perjalanan panjang untuk menjadi semakin lebih baik.

Karena itu, patut ditunggu bagaimana model kebanggan milik Benham ini akan mampu membuat timnya semakin berkembang. Akhir pekan nanti FC Midtjylland akan berhadapan dengan tim asal Siprus, Apoel FC, di babak kualifikasi ketiga Liga Champions 2015/2016. Jika berhasil menang, maka hanya tinggal satu langkah lagi bagi FC Midtjylland untuk bisa menunjukkan pada dunia kualitas yang mereka miliki dari hasil model milik Benham di Liga Champions Eropa.

(hnm)

 

Artikel: kontakperkasa futures.