Selubung Misteri Karir Marco Negri Di Glasgow RangersKontakPerkasa Futures, Stadion Renato Curi, 16 tahun lalu, menjadi panggung sebuah partai antara Perugia melawan AS Roma. Bagi Perugia, partai ini adalah sebagian dari serangkaian laga yang harus mereka jalani dalam upaya salvezza atau menyelamatkan diri dari jeratan degradasi. Seorang pemandu bakat hadir dalam laga tersebut, ia ditugasi khusus untuk mengamati seorang pemain bernomor punggung 18.

Pemain itu adalah Marco Negri. Negri mencetak sebuah gol dan membuat sebuah assist untuk kemenangan Perugia dalam laga tersebut. Pada akhir musim, Negri berhasil mencetak 15 gol, namun tidak dapat menghindarkan Perugia dari jeratan degradasi.

Ewan Chester adalah pemandu bakat yang dimaksud. Sekembalinya ke klub yang menugaskannya, Glasgow Rangers, Chester membuat laporan singkat yang ia tujukan kepada Walter Smith, manajer tim saat itu. Dalam laporannya, Chester menuliskan bahwa Negri bukanlah seorang penyerang yang mau bekerja keras. Ia tidak melakukan tracking back, tidak pula melakukan pressing kepada pemain belakang lawan. Namun jika klub ingin mencari penyerang yang mampu mencetak 30 gol dalam semusim, dialah orangnya.

Lebih jauh, Chester menyebut kelihaian Negri mencetak gol berupa sundulan jarak pendek, tap-in hingga eksekusi penalti. Mengamati gol-gol Negri kemudian, penilaian tersebut memang tidak salah.

Klub pada akhirnya memutuskan untuk mengikat sang penyerang gondrong dan berjanggut lebat itu. Saat itu, usia Negri masih 26 tahun, usia emas pesepak bola. Dengan Piala Dunia 1998 sudah di depan mata di mana pelatih Italia saat itu, Cesare Maldini, telah memberi sinyal positif, maka pilihan menjadikan pemain yang tengah termotivasi seperti Negri sepertinya tepat. Ditambah lagi, masa-masa tersebut adalah masa keemasan Italian invasion, yaitu membanjirnya pemain-pemain asal Italia yang bermain di klub-klub Inggris maupun Skotlandia.

Negri ditransfer dengan nilai 3,5 juta poundsterling, plus gaji 18 ribu pounds per pekan, menjadikannya salah satu penerima gaji tertinggi di skuat. Ambisi besar Smith adalah meraih 10 gelar liga beruntun, dan untuk itulah ia merasa perlu mendatangkan tukang gedor gawang lawan yang jempolan. Kehadiran Negri membuat Rangers memiliki empat pemain Italia karena saat itu mereka juga diperkuat oleh Gennaro Gattuso yang masih muda, ekspemain Fiorentina, Lorenzo Amoruso, dan eks-Juventus, Sergio Porrini. Pemain terkenal lain seperti Peter Van Vossen, Joerg Albertz, Brian Laudrup hingga Paul Gascoigne juga menghuni tim ini sehingga aroma kontinental amat kentara.

Getty ImagesGetty Images

Negri lantas memberi justifikasi atas harga dan ekspektasi besar yang berada di pundaknya. Ia mencetak dua gol dalam laga debut liga lawan Heart of Middlothian, lalu mencetak lima gol dalam kemenangan Rangers atas Dundee United. Satu gol di antaranya bahkan menyamai apa yang dilakukan Gazza bersama tim nasional Inggris di Piala Eropa tahun 1996, yaitu mengontrol bola melewati kepala bek lawan lalu menghajar bola dengan sepakan voli. Bedanya, Negri mencetak gol dengan tendangan lob melewati kepala penjaga gawang. Gol yang amat cantik dan elegan.

Torehan tersebut masih belum seberapa. Ia lantas mencetak 23 gol hanya dalam 10 laga awal. Rataan tersebut adalah yang tertinggi di Eropa saat itu, sekaligus memecahkan rekor demi rekor. Selanjutnya, Negri mencetak tambahan lima gol yang menutup tahun 1997 dengan manis: 28 gol dalam setengah musim.

Namun ada yang janggal dari penampilan Negri. Dalam setiap laganya, Negri tidak terlihat menikmati pertandingan atau menikmati kebersamaan dengan rekan setim. Selebrasi yang ia lakukan sangat dingin dan nyaris tanpa senyuman. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang terlalu pendiam di ruang ganti. Rekan-rekan setimnya, seperti Albertz, mengatakan bahwa Negri memang tidak seperti pesepakbola kebanyakan. “Negri adalah pemuda yang baik, namun di luar lapangan saya tidak terlalu mengenalnya. Tapi ia jelas bukan tipe orang yang gemar mengunjungi klub malam,” ungkap pria Jerman ini.

Dari kegiatan luar lapangannya itulah justru bencana terjadi. Saat sedang bermain squash bersama kompatriotnya, Sergio Porrini, bola yang memantul keras tanpa sengaja mengenai mata Negri. Cedera mata tersebut cukup parah sehingga memaksa Negri absen cukup lama dari lapangan, dan disusul cedera-cedera berikutnya seperti cedera punggung dan juga penyakit hernia. Ironisnya, sekembalinya ke lapangan, Negri hanya total mencetak dua gol di liga dan tiga gol di Piala Skotlandia dalam sisa musim. Penurunan drastis tersebut akhirnya membuat gelar juara liga Rangers direbut oleh rival abadi, Glasgow Celtic. Rangers juga hanya menjadi runner-up di Piala Skotlandia karena menyerah dari Hearts.

Bagi Negri sendiri, rangkaian penurunan performa tersebut juga menutup rapat pintu tim nasional yang berlaga di Piala Dunia Prancis 1998. Dalam skuat yang diumumkannya, Maldini mengandalkan Christian Vieri, Alex Del Piero, Pippo Inzaghi dan penyerang senior Roberto Baggio dalam barisan penyerangnya.

Musim-musim selanjutnya, ketajaman Negri benar-benar menguap. Sempat dipinjamkan ke Vicenza, Negri kembali ke Ibrox di mana pelatih Dick Advocaat berupaya mengembalikan ketajamannya. Upaya tersebut menemui kegagalan karena Negri kembali tidak berguna di lapangan. Ia kemudian hanya bermain di tim cadangan.

Pada akhirnya, Negri kembali ke tanah airnya menuju klub Bologna. Hanya bertahan semusim di klub yang pernah diperkuat Roberto Baggio tersebut, Negri kemudian berpindah ke Cagliari dan Livorno. Meski mampu mencetak delapan gol dari 10 laga di Livorno, Negri kemudian memilih untuk menutup karirnya di klub yang membesarkan namanya, Perugia, pada musim 2004/2005. Total, Negri mengukir 154 penampilan dan mencetak 95 gol dalam 10 tahun karir profesionalnya sebagai pemain.

Getty Images/Stu ForsterGetty Images/Stu Forster

Selepas pensiun, tidak banyak yang mengetahui keberadaan Negri yang memang misterius ini, bahkan Amoruso yang menjadi mentornya selama di Rangers juga mengaku sudah delapan tahun tidak mendengar kabar darinya.

Misteri memang menyelubungi perjalanan karir pemain ini. Ada spekulasi beredar soal penurunan drastis performanya di Rangers setelah enam bulan yang sangat menakjubkan. Sikap acuh Negri lah yang kemudian membuat rekan-rekan setim tidak menyukainya, sehingga ia kehilangan kepercayaan diri yang berimbas pada performa buruk di lapangan. “Teams who drinks together, wins together.” Begitulah pemeo umum dalam sebuah tim olahraga yang menggambarkan kebersamaan.

Perjalanan karir seorang pemain memang tidak dapat ditebak. Negri adalah tipe goal poacher yang memang memiliki masa-masa emas pada era 1990-an, di mana seorang penyerang memang hanya ditugasi mencetak gol. Di luar segala misteri yang menyelubungi penurunan permainan dan karirnya, Negri tetaplah salah seorang penyerang bernomor 9 klasik yang pernah hadir dalam percaturan sepak bola level atas. Kebetulan, Negri berulang tahun ke-44 Senin (27/10). Selamat ulang tahun, Negri! (hnm).

Artikel: kontakperkasa futures.