PT KONTAK PERKASA  FUTURES – Ada satu negara yang paling diperbincangkan di setiap turnamen. Negara tersebut adalah Inggris. “Ekspektasi” dan “kekecewaan” seolah menjadi dua kata yang saling mengikuti kemanapun Inggris bermain. Namun di Piala Eropa 2016 ini, ada satu kata lagi yang hampir disinonimkan dengan penampilan Inggris, kata tersebut adalah “mubazir”.

Dalam Bahasa Indonesia, “mubazir” memiliki arti “menjadi sia-sia atau tidak berguna; terbuang-buang (karena berlebihan); berlebih(an); bersifat memboroskan; royal.” Sifat mubazir Inggris ini tentunya semakin disorot di bulan ramadan ini, meskipun tidak ada hubungannya dengan sepakbola.

Kenapa Inggris bisa mubazir, berlebihan, boros, dan royal? Jawabannya ada banyak, dan kami akan memaparkan semuanya.

Mubazir dalam Urusan Jumlah Tembakan

Sepakbola mengenalnya dengan “tidak efektif”. Inggris menjadi salah satu kesebelasan yang paling banyak melakukan tembakan tepat ke arah gawang di antara semua kesebelasan di Piala Eropa 2016. Ini seharusnya menjadi kabar gembira bagi Roy Hodgson, tapi sayangnya tidak; karena mereka menjadi salah satu yang terburuk juga soal angka konversi di Piala Eropa 2016.

Inggris mencetak 30 tembakan saat melawan Slovakia di pertandingan terakhir fase grup. Angka ini adalah angka tertinggi mereka soal jumlah tembakan dalam satu pertandingan di Piala Eropa sejak 1980.

Secara total, mereka juga sudah mencetak 64 tembakan (termasuk yang terblok) di atas tanah Prancis selama tiga pertandingan fase grup. Angka ini adalah yang tertinggi kedua jika kita bandingkan mereka dengan Portugal (70 total tembakan), Jerman (62), Belgia (56), Spanyol (51), dan tuan rumah Prancis (50).

Dengan angka sebanyak itu tapi baru mencetak 3 gol, ini berarti The Three Lions memiliki konversi sebesar 6,98% saja.

Kemudian juga, 34 tembakan mereka dilepaskan dari luar kotak penalti. Ini adalah lebih dari setengah total tembakan mereka. Secara tidak langsung, kita bisa menyimpulkan bahwa Inggris selalu mengalami kebuntuan ketika ingin menyelesaikan serangan mereka dengan tembakan ke gawang.

Eric Dier menjadi pemain Inggris yang paling banyak melakukan tembakan dengan 9 kali, tapi hanya satu yang tepat sasaran (kita semua tahu angka satu itu adalah gol tendangan bebas spektakulernya ke gawang Rusia).

Kapten Wayne Rooney menjadi pemain mubazir kedua di Inggris dengan 8 tembakan (3 on target), disusul oleh Adam Lallana (2 on target), Bamidele Alli (1), Daniel Sturridge (2), dan Harry Kane (1) yang masing-masing mencetak total 7 tembakan.

Tapi Dier dkk sebenarnya tak perlu berkecil hati, karena gelar pemain paling banyak melakukan tembakan jatuh kepada Cristiano Ronaldo yang melakukan total 30 tembakan sepanjang tiga pertandingan Piala Eropa 2016. Namun, setidaknya Ronaldo tidak terlalu mubazir dengan berhasil mencetak 7 tembakan tepat sasaran dan menghasilkan 2 gol.

Mubazir dalam Urusan Dribel

Kalau kita bermain video game sepakbola kemudian harus melawan kawan kita yang senang mendribel-dribel bola sambil berputar-putar di lapangan, kita pasti akan kesal. Begitu juga dengan Inggris.

Inggris menjadi kesebelasan yang paling ngeselin —bagi lawan maupun pendukungnya; mereka banyak melakukan dribel dengan 85 total dribel. Angka ini adalah yang tertinggi jauh di atas Jerman (62 total dribel), Prancis (57), Rumania (55), Slovakia (51), dan Portugal (47).

Angka ini sebenarnya bisa memiliki arti positif, yaitu dengan 59 di antaranya yang merupakan dribel sukses. Ini juga menjadi angka yang tertinggi di Piala Eropa 2016. Namun, sayang sekali mereka juga melakukan dribel yang gagal sebanyak 26 kali, yang bukan kebetulan juga, merupakan angka gagal dribel tertinggi di turnamen.

Ali dan Kyle Walker menjadi pemain Inggris yang paling banyak melakukan dribel dengan angka yang sama, yaitu 8 dribel sukses dari 11 kali percobaan. Di belakang mereka berdua ada Rooney (7 dribel sukses dari 10 percobaan), Raheem Steling (5/9), Sturridge (5/7), dan Danny Rose (5/7).

Banyaknya angka dribel dari Walker dan Rose, menunjukkan bahwa Inggris mengandalkan kedua full-back mereka untuk memainkan permainan yang melebar alih-alih para pemain (gelandang atau penyerang) sayap mereka.

Jika kita melihat secara keseluruhan, Gareth Bale menjadi pemain yang paling sering melakukan dribel dengan 13 dribel sukses (terbanyak di Piala Eropa 2016) dari 16 kali percobaan, disusul oleh Vladimir Weiss (10/14), Kingsley Coman (9/13), Eden Hazard (10/12), dan Ivan Rakitic (6/12).

Dribel dan Menembak Bukan Jaminan Gol

Kita sudah sama-sama hapal kalau pemain yang lihai melakukan dribel dan gocekan untuk menipu para bek, dikombinasikan dengan kemampuan menembak yang baik, maka gol adalah jaminan pasti. Tapi formula ini tidak selalu berhasil di kehidupan nyata di atas lapangan.

Bale sepertinya menunjukkannya di Wales dengan mencetak 3 gol yang dikombinasikan dengan 16 percobaan dribelnya, sampai-sampai manajer mereka, Chris Coleman, tidak segan menyebut kesebelasannya sebagai one-man team.

Tapi ternyata dua dari tiga gol Bale dicetak melalui situasi bola mati (tendangan bebas), bukan dari hasil kelihaiannya membuka pertahanan lawan melalui 13 dribel suksesnya. Begitu juga dengan Weiss (1 gol), Coman (0), Hazard (0), dan Rakitic (1), serta tiga pencetak gol Inggris, yaitu Dier, Jamie Vardy, dan Sturridge.

Lalu, bagaimana dengan operan? Di Piala Eropa 2016, Inggris mencetak 1.536 total operan. Angka ini membuat Inggris menduduki peringkat kelima dalam soal banyak-banyakan mengoper, di bawah Spanyol yang sudah terkenal dengan tiki taka (2.076 total operan), Jerman (2.010), Portugal (1.678), dan Swiss (1.606).

Di antara angka operan sebanyak itu, sebenarnya Inggris memiliki angka operan kunci (key pass) sebanyak 52 kali, kurang satu dari Jerman di puncak pencetak operan kunci yang mencetak 53 total key pass.

Namun lagi-lagi, masalah utama Inggris dalam memecah kebuntuan ternyata tidak bisa diselesaikan dengan operan maupun dribel, apalagi dengan menembak sesering mungkin. Mereka hanya harus lebih efektif, untuk tidak sering-sering mubazir. Pemain yang paling banyak melakukan tembakan belum pasti menjadi pemain yang paling banyak mencetak gol.

Inggris Bisa Belajar dari Islandia

Babak fase grup Piala Eropa 2016 sudah berakhir, Inggris yang mubazir harus rela lolos melalui peringkat kedua di Grup B di bawah tetangga mereka, Wales yang woles. Mereka akan menghadapi Islandia, peringkat kedua Grup F, di babak 16 besar pada 28 Juni 2016 (Selasa, 02:00 WIB).

Berkebalikan dari Inggris, Islandia adalah kesebelasan yang paling sedikit kedua dalam urusan menembak. Mereka hanya menembak sebanyak 23 kali, masih di atas Irlandia Utara dengan 17 total tembakan saja.

Namun, Islandia berhasil meraih angka konversi jauh di atas Inggris, yaitu dengan 23,52%. Bahkan Irlandia Utara yang hanya mencetak 2 gol saja memiliki konversi sebesar 16,67%. Sementara Inggris hanya 6,98%.

Lawan Inggris di babak 16 besar nanti itu juga bahkan menjadi kesebelasan yang paling banyak menerima tembakan, yaitu 61 kali ditembak. Tidak heran penjaga gawang Islandia, Hannes Por Halldorsson, menjadi pemain yang paling banyak melakukan penyelamatan (save) dengan 17 kali.

Islandia juga memiliki angka terendah dalam urusan dribel, yaitu hanya 8 dribel sukses dari 18 kali percobaan.

Dibandingkan dengan Inggris yang memiliki rata-rata penguasaan bola 57,9% (keempat di turnamen) dan operan sukses 85,6% (kelima di turnamen), Islandia hanya memiliki rata-rata penguasaan bola 34,3% dan operan sukses 60,9% (keduanya adalah terendah kedua di turnamen).

Pertandingan Inggris melawan Islandia nanti bisa dipastikan akan menjadi pertandingan yang berjalan berat sebelah, tapi hasilnya bisa jadi mengejutkan. Karena di sepakbola, efektivitas adalah nomor satu, dan Inggris sudah menjadi kesebelasan yang paling mubazir di Piala Eropa 2016. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES