Soal Dominasi Spanyol di MotoGP KontakPerkasa Futures, Di 2010 Spanyol mencetak sejarah saat tiga pebalap mereka menyapu bersih gelar juara dunia kelas 125cc, 250cc dan MotoGP. Padahal 20 tahun sebelumnya negara tersebut bukan apa-apa dibanding Italia dan Jepang.

Trio pebalap yang mengantar Spanyol menyapu bersih tiga gelar juara dunia di tahun 2010 tersebut adalah Jorge Lorenzo (MotoGP), Toni Ellias (Moto2) dan Marc Marquez (Moto3). Tidak pernah ada sebelumnya negara yang meraih sukses sebesar Spanyol di sepanjang sejarah seri Grand Prix dunia.

Sejak 2012 cuma Sandro Cortese yang menjadi cela terhadap dominasi Spanyol setelah dia jadi juara dunia Moto3 2012. Kecuali itu seluruh kelas Moto3, Moto2, dan MotoGP juara dunianya direbut Spanyol. Maka jangan bosan-bosa melihat La Rojigualda – bendera nasional Spanyol – berkibar di hampir setiap seri yang digelar.

Dominasi Spanyol di MotoGP mulai membosankan? Silakan saja berpendapat seperti itu. Tapi Spanyol memang pantas memetik sukses tersebut setelah begitu banyak yang mereka lakukan dalam pengembangan pebalapnya. Bukan itu saja, perusahaan-perusahaan Spanyol juga punya banyak pengaruh dan pengorganisasian balapan yang pada akhirnya ikut mendongkrak minat publik Spanyol terhadap ajang tersebut. Maka jangan heran kalau dari 11 balapan Eropa di musim ini, empat di antaranya digelar di Negeri Matador.

Spanyol sebenarnya pernah memiliki beberapa juara dunia dalam satu musim, tapi itu sudah lama sekali terjadi dan mereka meraihnya bukan di kelas paling bergengsi. Pada tahun 1988 Manuel Herreros jadi juara 80cc, Álex Criville; kampiun 125cc dan Sito Pons di 250cc. Spanyol berulang kali memunculkan pebalap muda potensial di beberapa kelas, tapi tidak pernah ada yang benar-benar bisa bersaing di kelas paling bergengsi (500cc ketika itu).

Pebalap-pebalap Spanyol tidak pernah berjaya di level tertinggi karena pabrikan-pabrikan Jepang tidak tertarik pada mereka. Alasannya berbau politis, yang diberlakukan Jenderal Franco beberapa puluh tahun sebelumnya. Diktator Spanyol selama lebih kurang 40 tahun itu mengeluarkan aturan yang membatasi impor motor Jepang ke Spanyol. Tujuannya diyakini adalah untuk melindungi pabrikan-pabrikan lokal seperti Bultaco, Ossa, Derbi dan Montesa.

Namun pabrikan-pabrikan lokal Spanyol itu sebagian besar sudah mengalami kebangkrutan. Dan di era 1980-an angin perubahan mulai datang saat pembatasan kerjasama bisnis dengan perusahaan asing mulai mengendur. Honda mulai masuk Spanyol dengan mengakuisisi Montesa, Suzuki melakukan hal yang sama dengan anak usaha pabrikan asal Austria Puch, Kawasaki bergabung dengan Derbi dan Yamaha bersama Semsa.

Sejak saat itu orang muda Spanyol mulai tertarik dengan balapan motor. Alex Criville, Alberto Puig dan Carlos Checa menandai kedatangan pebalap-pebalap Spanyol di kelas paling bergengsi (500cc) pada awal 1990-an.

Di akhir 1980-an sampai awal 1990-an kejuaraan nasional di spanyol dianggao sangat buruk. Kondisinya berubah di tahun 1993 dengan digelar Open Ducados international championship, yang memilkiki sponsor besar dan didukung mulai banyaknya lintasan dibangun di seluruh negara.

Event balap lokal juga mulai bemunculan. Aprilia Bancaja dan Caja Madrid adalah salah satu yang pertama, dengan lorenzo merupakan salah satu lulusannya. Kemudian ada juga Movistar Activa Cup pada akhir 1990-an, dengan Dani Pedrosa, Alvaro Bautista dan beberapa nama besar memulai karier balapnya di sana.

Seiring berlalunya waktu, Open Ducados berubah menjadi CEV Spanish National Championship. Ajang tersebut mengalami peningkatan level yang luar biasa yang pada akhirnya menarik minat rider-rider asing untuk ikut berpartisipasi. Pengelolaan CEV diambil alih Dorna pada 1998 yang membuat ajang ini semakin bergengsi lagi, sementara di 2014 FIM secara resmi memayungi event ini.

CEV kini tak cuma digelar di Spanyol karena serinya melintasi juga Portugal dan Prancis. Ajang ini dikenal sebagai sekolah untuk naik ke seri Grand Prix. Pada tiga kelas Moto3, Moto2, dan MotoGP, lebih dari 75% pesertanya adalah lulusan CEV.

“Dorna membangun sistem yang sangat baik. Bukan cuma pebalap yang diasah, tapi juga tim, mekanik dan lain-lainnya. Keras banget diasahnya di sini. Di negara lain sebenarnya ada juga event seperti ini. Di Inggris namanya BSB, tapi tidak sebagus di Spanyol,” ujar Manajer Motorsport and Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM), Anggono Iriawan.

“Jumlah serinya memang cuma sedikit, tujuh balapan satu musim, Tapi CEV ini punya banyak sesi latihan, ini yang melatih skill pebalap dan menjadikannya berbeda dengan event-event lainnya,” lanjut pria yang juga menjadi manajer Dimas Ekky Pratama itu.

Soal dominasi Spanyol di ajang MotoGP, Dani Pedrosa pernah menyebut kalau negaranya memang punya perhatian yang luar biasa besar dalam pengembangan pebalap muda. Hal mana belum ditemukan di negara lain.

Minat besar pemuda Spanyol pada road racing, iklim Spanyol yang lebih hangat dibanding negara-negara Eropa lain, dukungan yang besar dari sponsor lokal dan jumlah lintasan berlevel internasional yang banyak ikut mendorong sukses tersebut.

“Kami memfokuskan perhatian pada olahraga, Anda tidak akan menemukan ada banyak negara melakukan hal semacam ini dalam beberapa tahun terakhir. Passion orang-orang Spanyol pada balapan road racing, iklim negara ini membuatnya menjadi surga buat pengendara motor. Dukungan kuat dari Sponsor dan jumlah lintasan yang tersedia saat ini membuat Spanyol mendominasi kejuaraan,” ucap Padrosa beberapa waktu lalu.

“Federasi Spanyol, Federasi Katalunya, sangat banyak memberikan bantuan pada anak-anak muda ini saat mereka masih berusia delapan dan sembilan tahun. Mungkin dalam 10 tahun ke depan kita akan melihat mereka membalao di sini. Saya pikir ini adalah kunci, pada dasarnya begitu. Spanyol percaya pada balap motor,” lajut rider Repsol Honda itu.

Dominasi Spanyol di tiga kelas seri Grand Prix juga terepresentasikan dari banyaknya sirkuit mereka yang menjadi tuan rumah balapan. Di musim ini saja, dari 11 seri Eropa empat di antaranya digelar di Negeri Matador. (hnm)