PT KONTAK PERKASA FUTURES – AS Roma dihukum tiga kartu merah dalam dua leg play-off Liga Champions. Luciano Spalletti heran bagaimana timnya bisa kehilangan ketenangan.

Roma gagal lolos ke fase grup Liga Champions setelah kalah agregat 1-4 dari Porto. Dalam partai leg kedua di Olimpico Rabu (24/8/2016) dinihari WIB tadi, Giallorossi takluk 0-3 di hadapan pendukung sendiri.

Kegagalan Roma melaju ke fase grup ini tak terlepas dari kartu merah yang memengaruhi pertandingan. Malam tadi mereka harus bermain dengan sembilan orang usai Daniele De Rossi diusir wasit di menit ke-39, diikuti Emerson Palmieri pada menit ke-50.

Alhasil mereka kehilangan kesempatan untuk mengejar dalam posisi tertinggal 0-1 usai dibobol Felipe pada menit ke-8. Karena keunggulan jumlah pemain itu pula, Porto bisa menambah gol lewat Miguel Layun dan Jesus Corona di menit ke-73 dan 75.

Sebelumnya di leg pertama Roma juga harus menuntaskan pertandingan dengan defisit satu pemain usai Thomas Vermaelen menerima kartu merah pada menit ke-4. Tapi di laga itu Roma masih sempat mempertahankan keadaan hingga bermain imbang 1-1.

Spalletti menyebut, sejak awal laga malam tadi Roma menempatkan terlalu banyak tekanan ke diri sendiri karena tampil kurang baik dan tak mampu mengontrol pertandingan.

“Yang terjadi adalah kami kalah di sebuah laga sangat penting yang akan mengubah musim ke depannya dan kami bakal harus mengatasi itu. Kami tidak mengontrol bola dengan baik, yang mana sebelumnya jadi sebab perencanaan saya dan kenapa saya membuat pilihan tertentu,” katanya kepada Mediaset.

“Kami tidak menanganinya dengan baik, saat kami mulai menata diri kembali setelah gol, kami bermain dengan 10 orang dan segalanya jadi lebih sulit,” imbuhnya seperti dikutip Football Italia.

Spalletti heran bagaimana timnya bisa mudah kehilangan kendali diri, sehingga melakukan kesalahan-kesalahan fatal yang berujung kartu merah di dua leg. Bagaimanapun dia menegaskan bahwa saat ini yang terpenting adalah melewati situasi sulit, karena gagal lolos Liga Champions diyakini akan memberikan konsekuensi dan sorotan tersendiri.

“Ketiga kartu merah itu naif, karena menuntaskan laga dengan 11 orang adalah karakteristik kami musim lalu. Kami tidak pernah memberikan wasit kesempatan untuk mengusir kami,” sambungnya.

“Sekarang itu banyak terjadi dan saya tidak paham, karena kami seharusnya bisa jauh lebih tenang. Akan ada masa yang sangat sulit.”

“Orang-orang akan mencoba menunjukkan jari untuk menyalahkan, kami harus menutup telinga, mata, dan bahkan hidung. Kami harus menggunakan penutup mata dan fokus pada usaha luar biasa, konsentrasi, dan berbagi nilai,” demikian pelatih berkepalat plontos ini.  (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES