PT KONTAK PERKASA  FUTURES – Dua kali beruntun menjuarai Piala Eropa (2008 dan 2012), Spanyol mengincar hat-trick juara berturut-turut di Prancis ini, sekaligus gelar juara keempat mereka secara keseluruhan — yang pertama adalah Piala Eropa 1964. Reputasi ini mereka coba perbaiki setelah pada Piala Dunia 2014 di Brasil mereka gagal total dan harus terhenti di fase grup.

Sejauh ini penampilan mereka di atas lapangan Piala Eropa 2016 sangat meyakinkan. Pertama, mereka memang hanya menang 1-0 melawan Republik Ceko, tetapi mereka sangat mendominasi pertandingan.

Kemudian ketika melawan Turki di pertandingan kedua fase Grup D, mereka memperbaiki masalah pada penyelesaian akhir mereka dan berhasil menghancurkan lawan mereka tersebut dengan skor meyakinkan, 3-0.

Dengan modal 6 poin dari dua pertandingan, ini adalah kabar baik bagi Spanyol. Sayangnya, di pertandingan terakhir mereka di fase grup, mereka harus kalah 2-1 dari Kroasia, sehingga La Furia Roja pun harus rela berbagi “slot knock-out neraka” untuk menjadi runner-up dan menghadapi Italia di babak 16 besar.

Kesabaran Spanyol yang Anti Tekanan

Sorotan utama untuk Spanyol ada pada pertandingan melawan Turki. Saat itu Turki menekan pasukan Vicente del Bosque, tidak peduli saat itu bola berada di wilayah yang dalam ataupun tinggi di atas lapangan. Turki berusaha secepat mungkin mengambil alih kembali penguasaan bola.

Respons Del Bosque ternyata menarik, yaitu membuat Spanyol sering menahan bola. Ini bukan perkara mudah, apalagi melawan Turki yang sangat menekan. Namun, menunda distribusi bola selama satu atau dua detik ini lah yang membuat perubahan besar di sepanjang 90 menit pertandingan tersebut.

Dengan langkah ini Turki secara tidak langsung diberikan waktu tambahan untuk mengorganisasi ulang pertahanan mereka, sehingga tidak mungkin bagi Spanyol untuk mencetak counter attack. Namun, secara tidak langsung juga Spanyol seperti sengaja memancing Turki.

Karena pada dasarnya Turki berniat lebih menekan, mereka kemudian mencoba berusaha merebut penguasaan bola. Dari space yang mereka tinggalkan untuk menekan para pemain Spanyol inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemain “Matador”.

Andres Iniesta adalah ahli dari taktik Del Bosque ini. Pemain Barcelona berusia 32 tahun ini sampai dijuluki memiliki kemampuan bernama “La Pausa”, yaitu kemampuan untuk membuka ruang dengan cara yang sederhana: menunggu, sabar, percaya diri, dan kemudian menunjukkan teknik (biasanya operan) yang luar biasa.

Spanyol melakukan hal ini berkali-kali, sebenarnya saat mereka melawan Ceko dan juga Kroasia, tetapi yang paling kelihatan adalah saat mereka melawan Turki. Mereka berhasil menciptakan ruang yang besar di wilayah pertahanan Turki, ruang yang hanya mereka manfaatkan selama sepersekian detik saja, tetapi sangat krusial.

Tidak heran, ketiga gol Spanyol dicetak melalui cara ini. Semuanya karena kesabaran dan juga kejeniusan para pemain Spanyol, terutama Iniesta.

Sudah Saatnya Spanyol mengandalkan Wajah Baru

Sejak terus mengandalkan Xavi Hernandez dan Xabi Alonso yang sudah berumur, skuat Spanyol di Piala Eropa 2016 kali ini terlihat lebih muda dan lebih segar. Piala Dunia 2014 menunjukkan bahwa Xavi (sekarang berusia 36 tahun) dan Xabi (34) sudah tidak bisa lagi diandalkan.

Musim panas ini mereka banyak mengandalkan Iniesta (32) dan Francesc Fabregas (29), serta masih dibantu oleh Sergio Busquets (27), sekaligus juga berarti menandakan Del Bosque yang harus mencadangkan dua pemainnya yang lebih muda dan lebih segar, yaitu Koke (24) dan Thiago Alcantara (25).

Padahal kedua pemain yang lebih muda tersebut adalah pemain-pemain yang sejauh ini bisa membuat perubahan untuk permainan Spanyol. Hal yang sama juga berlaku untuk “wajah baru” di lini depan seperti Álvaro Morata (23) dan Nolito (29) yang masing-masing, sesuai urutan, berhasil mencetak 3 dan satu gol, dari total 4 gol yang Spanyol cetak sejauh ini.

Terutama dengan kejeniusan Iniesta melalui “La Pausa”-nya, Del Bosque memang seharusnya tidak melakukan perubahan. Tapi kalaupun ia melakukan perubahan, ia seharusnya akan melakukannya dengan tanpa keraguan.

Di usia Iniesta yang sudah 32 tahun, Del Bosque harus mengatur timnya agar tidak selalu tergantung kepada Iniesta. Ini akan otomatis mengingatkan kembali pada Xavi dan Xabi.

Beruntung, Koke misalnya, ia selalu dimainkan dari bangku cadangan sejauh ini. Ini bukan sepenuhnya hal yang buruk, tapi juga bukan hal yang benar-benar baik.

Pemain asal Atletico Madrid tersebut lebih dinamis (rata-rata 2,34 peluang per 90 menit di La Liga 2015/16), agresif (rata-rata 1,94 tekel), dan lebih rajin (rata-rata 1,49 intersep) dibandingkan dengan Iniesta dan Busquets. Pendekatannya untuk lebih kepada kecepatan sangat membantu Morata dan Nolito di depan.

Kemudian Thiago, yang sejauh ini baru bermain selama 33 menit di Piala Eropa 2016, bisa lebih sering lagi diandalkan. Beruntungnya Thiago adalah pengganti ideal Iniesta, Kita bisa membandingkan statistik Thiago dan Iniesta sepanjang musim 2015/16.

Thiago “sebelas-dua belas” dengan Iniesta: 37 kali menciptakan peluang berbanding 32 dan sama-sama mencetak rata-rata 88% operan sukses. Bedanya Thiago bisa lebih diandalkan dalam bertahan, yaitu dengan angka intersepnya yang unggul 40 berbanding 27, tekelnya 53 berbanding 40, dan duel udaranya 55% berbanding 48%.

Padahal Thiago bermain lebih jarang daripada Iniesta. Di Bayern Munich di Bundesliga Jerman 2015/16, Thiago hanya bermain 27 pertandingan (1.643 menit), sedangkan Iniesta 28 pertandingan (2.245 menit) bersama FC Barcelona di La Liga 2015/16.

Del Bosque Harus Tahu Kapan Melakukan Perubahan

Dari seluruh kesebelasan di Piala Eropa 2016, tidak diragukan lagi Spanyol (bersama dengan Jerman juga) adalah kesebelasan yang paling lengkap dan seimbang dalam hal kemampuan teknik sekaligus pengalaman (pemain tua/berpengalaman) dan kesegaran tim (pemain muda).

Mereka berhasil mencetak 66,5% penguasaan bola (tertinggi kedua di Piala Eropa 2016) dan 90,1% akurasi operan (tertinggi). Iniesta, Fabregas, dan David Silva (30) bisa digantikan oleh Thiago, Koke, dan Lucas Vázquez (24) untuk memberikan Spanyol pendekatan yang lebih langsung dan lebih cepat, terutama menghadapi Italia Senin besok (27/06/2016 pukul 23:00 WIB).

Setidaknya Del Bosque sudah melakukan perubahan besar di posisi penjaga gawang dengan memainkan David de Gea alih-alih Iker Casillas, yang padahal saat ini penjaga gawang FC Porto tersebut menjabat sebagai kapten Spanyol.

Tapi satu-satunya kesalahan Del Bosque adalah tidak melakukan perubahan (baik di Starting XI maupun pergantian pemain) di posisi tengah dan depan saat mereka kalah 2-1 melawan Kroasia di pertandingan terakhir fase grup.

Sergio Ramos memang gagal mengeksekusi penalti dan kalah duel saat gol penyama kedudukan yang dicetak oleh Nikola Kalinic. David de Gea juga disorot atas gol Ivan Perisic. Namun, Del Bosque tetap yang paling bertanggung jawab.

Padahal, seperti Italia yang memiliki 6 poin (hasil dari dua kemenangan dan sekali kalah), tetapi Spanyol harus bertemu dengan Italia yang berstatus juara Grup E. Perang taktik melawan Antonio Conte tidak bisa dihindari lagi. Ini sangat menarik tetapi sangat disayangkan karena terlalu dini, terutama untuk penggemar Spanyol dan Italia.

Masalahnya, kalaupun mereka lolos dari hadangan Italia, mereka harus menghadapi (kemungkinan besar) Jerman, Prancis atau Inggris, dan baru ke partai final. Ini adalah langkah yang sangat berat untuk sang juara bertahan dan juga kesebelasan yang paling lengkap dan seimbang di Piala Eropa 2016.

Kembali mengingatkan, Spanyol adalah kesebelasan fantastis, tapi Del Bosque harus bersiap mengambil banyak risiko. Ia harus lebih siap untuk memainkan susunan sebelas pemain yang tepat dan melakukan pergantian pemain yang bisa mengubah permainan terutama untuk lebih cepat dan lebih menyerang.

Selama ini ia selalu “main aman” dengan rutin memilih pemain yang paling populer (tapi memang jago juga, sih) sambil melupakan potensi-potensi terpendamnya di bangku cadangan. Kekalahan atas Kroasia adalah refleksi besar bagi Spanyol, dan mereka harus membayarnya dengan sangat mahal.

Satu hal pasti, Del Bosque harus tetap bisa mempertahankan huruf ‘S’ yang tebal di kata ‘Spain’ (jangan sampai menjadi ‘pain’ yang dalam Bahasa Inggris artinya ‘menyakitkan’). Dan ia sebenarnya punya spesifikasi yang optimal untuk melakukannya, hanya memang: berat. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES