SSB di Indonesia, dari Mahal sampai yang GratisOrangtua sibuk tanya kanan-kiri tentang Sekolah Sepak Bola (SSB) bagus di areal tempat tinggal, seperti sudah jadi fenomena menarik tersendiri dalam beberapa tahun terakhir. Mau pilih yang seperti apa?

Orangtua mana yang tak ingin anaknya menjadi seorang, tak perlulah muluk-muluk menjadi Lionel Messi, Evan Dimas Darmono. Masih muda tapi populer dan bisa berjabat tangan dengan pejabat manapun.

Juga Irfan Bachdim yang popularitasnya melejit duluan. Ganteng dan punya istri cantik jelita. Irfan adalah pemain sepakbola. Dia bagian dari timnas senior.

Segala cara pun diambil agar anak-anak mereka bisa jadi pemain bola. Setali tiga uang, sekarang anak mana yang tak ingin jadi pemain bola.

Sekolah Sepak Bola (SSB) toh juga tak lagi sulit didapatkan. Ada ibu-ibu yang pernah curhat anaknya dianggap tidak gaul karena bukan anggota SSB. Padahal biaya untuk jadi siswa di SSB tidak murah, apalagi di Jakarta.

Melalui facebook, SSB Arsenal mematok biaya pendaftaran Rp 1,5 juta. Itu baru biaya pendaftaran, untuk iuran bulanan masih ada lagi. Besarannya mulai dari Rp 2,2 juta sampai Rp 3,3 per pekan.

Di SSB daerah biaya lebih kecil. SSB Passer Lampung mematok uang pendaftaran Rp 300 ribu dan biaya bulanan Rp 30 ribu. Biaya pendaftaran lebih besar dipatok SSB Bangau Makassar. SSB yang melahirkan pemain nasional seperti Isnan Ali dan Hamka Hamzah itu membuat aturan pendaftaran Rp 600 ribu per kepala, dengan biaya per bulan Rp 75 ribu.

“Semua swadaya SSB. Jadi mau tidak mau kami harus terapkan iuran dan biaya pendaftaran,” kata Sudarto, pelatih SSB Paser Lampung, dalam perbincangan dengan detiksport di Jakarta, menjelang final nasional AQUA Danone Nation Cup 2014.

Beruntung orangtua para pemain di Passer menyadari kewajiban itu. Mereka tak segan patungan untuk menggelar sebuah turnamen antar-SSB satu kabupaten. Misalnya saat ulang tahun ke-11 SSB Passer tahun lalu. Lewat musyawarah mufakat, orang tua siap mendanai sebuah turnamen HUT.

Lagipula biaya pendaftaran dan iuruan itu, menurut Sudarto, bakal dikembalikan kepada siswa. Baik berupa sewa lapangan, seragam latihan dan air minum saat latihan.

Lain lagi cerita Laode Muhammad Febrian. Selama dua tahun jadi siswa di SSB Putra Mumbul Nusa Dua, Bali dia hanya perlu membayar Rp 3 ribu rupiah setiap kali datang latihan. Uang pendaftaran pun tak mahal-mahal amat. “Cuma Rp 100 ribu pas pendaftaran” ucap dia.

Tapi rupanya, ungkapan mana ada yang gratis jaman sekarang, terbantahkan di SSB Sandeq Polman, Sulawesi Barat. Para siswa tak perlu membayar biaya kedatangan dan pendaftaran.

“Latihannya sepekan tiga kali, setiap Senin, Rabu dan Sabtu. Tidak pakai bayar,” kata Adam Roy, pelatih Sandeq.

Saat ini di Jakarta sudah berkumpul 16 tim terpilih dari 32 provinsi untuk bertarung di final nasional AQUA DNC, yang akan digelar di Stadion Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, 7-8 Juni. Yang juara yang mewakili Indonesia di final dunia DNC di Brasil pada bulan Oktober, dan dilatih Jacksen F. Tiago.

Artikel: kontakperkasa futures.