Televisi Sang Pemilik WaktuJakarta – Saat gelaran akbar sepakbola berlangsung, salah satu pembicaraan yang muncul di kalangan penonton adalah adanya “siklus hidup” baru. Tetapi, melihat apa yang terjadi di Piala Dunia 2014, ternyata adaptasi “siklus hidup” baru tak hanya kewajiban penonton. Hal serupa juga terjadi bagi para pemain.

Siklus hidup baru itu adalah berubahnya waktu istirahat, khususnya bagi masyarakat di kawasan Asia Pasifik. Pangeran Siahaan dalam kolomnya di detikSport mengambarkan apa yang terjadi di Indonesia ketika Piala Dunia hadir: “Ini bisa terlihat dari bagaimana mereka rela untuk mengorbankan waktu tidur demi menonton Piala Dunia dan hadir pagi harinya di kantor atau sekolah dengan kantung mata yang tebal”. (“Daya Magis Piala Dunia”, detikSport, 12 Juni 2014, 17:50 WIB) Memang, kehadiran televisi, menurut Jalaluddin Rakhmat (2011) telah mempengaruhi penjadwalan kegiatan sehari-hari masyarakat.

Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan Asia Pasifik, tayangan sepakbola memang hadir di waktu yang “kurang nyaman”. Liga-liga besar dunia berlangsung di Eropa, yang memiliki selisih waktu sekitar 6 hingga 8 jam dengan kawasan Asia. Begitu pula dengan Piala Dunia yang lebih sering berlangsung di belahan bumi bagian Barat.

Memang, untuk Piala Dunia 2014 (dan kemungkinan untuk Piala Dunia selanjutnya) sebenarnya penonton tidak perlu terpaku dengan televisi. Sebabnya, tayangan Piala Dunia sudah dapat dinikmati melalui berbagai platform seperti smartphone, tablet, dan berbagai gadget lainnya. Kemajuan teknologi era digital memungkinkan hal tersebut terjadi. Jika kita hendak menyaksikan pertandingan, tidak perlu mengikuti jadwal televisi, toh laga tersebut bisa dinikmati lewat media lain. Tetapi hal tersebut tidak serta merta membuat televisi kehilangan pamornya.

Jika berbicara dalam konteks Indonesia, kita tak bisa mengabaikan faktor biaya. Untuk menyaksikan melalui platform lain, tentu harus ada biaya yang dikeluarkan. Ini berbeda dengan televisi, di mana di Indonesia dapat menikmati tayangan kompetisi sepakbola (tidak terbatas pada Piala Dunia) secara gratis.

Namun begitu ada penjelasan lain, kali ini dari faktor psikologis. Menurut Richard Jackson Harris (2009: 160), menonton tayangan olahraga akan lebih nikmat ketika ada kehadiran orang lain. Pertandingan menjadi lebih menarik ketika ditonton ramai-ramai dibandingkan sendirian. Tentu hal ini berbeda dengan platform digital yang ditawarkan melalui gadget atau smartphone yang lebih bersifat personal. Keseruan menonton siaran langsung juga merupakan faktor mengapa orang lebih memilih “mengalah” untuk menonton televisi, meskipun jadwal siaran televisi tidak ideal.

Pengaruh Televisi terhadap Tayangan Olahraga

Tahun 1954 adalah kali pertama Piala Dunia ditayangkan di televisi . Ketika itu European Broadcast Union menyiarkan sembilan pertandingan ke negara-negara di kawasan Eropa. Inovasi teknologi televisi terus meningkat. Hingga pertengahan 1980-an, jumlah pesawat televisi yang beredar di pasaran naik 20 kali lipat menjadi 650 juta televisi di seluruh dunia.

Ketika pertama kali Piala Dunia disiarkan di televisi, FIFA tidak memperoleh keuntungan yang berarti. FIFA mulai melihat hak siar Piala Dunia sebagai ladang bisnis sejak Joao Havelange menduduki kursi presiden organisasi tersebut pada 1974 (“The World Cup as Big Business”, TIME, 2 Juni 2010). Sebagai gambaran kondisi sekarang, kita bisa melihat pendapatan FIFA melalui hak siar di Piala Dunia 2010, yakni 1.022 juta dolar Amerika Serikat .

Seberapa besar penonton Piala Dunia? Piala Dunia 2010, disaksikan oleh lebih dari 3,2 miliar orang atau mencapai 46,4 persen dari populasi global. Angka tersebut 8 persen lebih banyak daripada Piala Dunia 2006. Ada pun jumlah pasang mata yang berada di rumah saat pertandingan final ditayangkan mencapai bilangan 530.900.000 (Piala Dunia Era Digital, Kompas, 28 Juni 2014, hal.31). Mundur ke Piala Dunia 2002, tercatat 1,1 miliar pemirsa televisi di seluruh dunia menyaksikan pertarungan Brasil vs Jerman yang merupakan partai final.

Para Pemain juga Kena Imbasnya

Sebagai sebuah hiburan, maka para pemain sepakbola selaku pemeran utama harus memberikan suguhan yang menarik. Tidak hanya teknik yang apik di lapangan, tetapi mereka juga harus tampil di jam prime time menurut televisi. Jay Coakley (2003) menilai bahwa telelvisi telah mempengaruhi jadwal dan waktu dimulainya pertandingan.

Contoh kasus di Piala Dunia 2014 adalah laga antara Pantai Gading kontra Jepang yang berlangsung hari Sabtu 14 Juni 2014 pukul 22:00 waktu Brasil. Sejauh ini, bentrok Gervinho dkk. kontra Keisuke Honda menjadi satu-satunya laga Piala Dunia 2014 yang kick-off paling larut (waktu Brasil). Apakah jam tersebut adalah waktu yang ideal bagi para atlet? Mungkinkah ini upaya FIFA untuk menjaring penonton televisi yang ada di Jepang? Ini mengingat, waktu kick-off tersebut adalah waktu yang sangat ideal di Negeri Matahari Terbit, yakni hari Minggu 15 Juni 2014 sekitar pukul 10 pagi waktu Jepang.

Contoh lain adalah laga antara Portugal kontra Jerman. Pertandingan itu dimulai pada siang hari waktu Brasil. Mungkin para pemain Seleccao das Quinnas dan Der Panzer dalam hati juga komplain mengapa harus tampil di saat Matahari bersinar sangat terik. Tetapi, pukul 1 siang di Barsil, sama artinya dengan pukul 5 atau 6 sore waktu Eropa. Sungguh itu adalah waktu yang ideal bagi warga Jerman dan Portugal untuk menyaksikan televisi. Sembari beristirahat sore, mereka menyaksikan para pahlawannya berjuang.

Pun begitu dengan Belanda yang harus berjibaku menghadapi Meksiko di 16 besar, di bawah teriknya Mentari dan suhu yang cukup panas:32 derajat celcius.

Waktu pertandingan yang (mungkin) kurang mendukung bagi Tim Oranye, tetapi di sisi lain itu waktu yang cukup nyaman bagi para warga Belanda yang berada di ‘Negeri Kincir Angin’ untuk menonton televisi, menyaksikan para pahlawannya berjuang merebut tiket perempatfinal. Di Belanda, laga tersebut berlangsung sekitar pukul 6 sore.

Di artikel ini kita telah melihat tentang betapa besarnya penonton televisi Piala Dunia. Angka-angka ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan pentas sepakbola dunia ini sesungguhnya tidak saja merupakan bagian dari bsnis industri sepakbola, tetapi juga bisnis entertainment dan industri olahraga.

Sebagai bisnis entertainment, tentu ada hal-hal yang harus sesuai dengan kaidah-kaidah hiburan. Artinya, apa yang ditampilkan oleh sepakbola harus enak dikonsumsi oleh pemirsa. Selain kualitas gambar, tentu hal lain adalah jadwal atau jam tayang. Para pemain mengeluh kepanasan, mengeluhkan jadwal karena harus bertarung di cuaca yang kurang ideal (soal suhu udara dan kelembaban di Brasil, baca di sini ), tapi FIFA tetap teguh dengan pendiriannya. Pertunjukan harus terus berjalan, the show must go on.

 

Secara umum, kehadiran televisi memang memberikan pengaruh besar terhadap olahraga. Menurut Richard Jackson Harris (2009), sebelum adanya televisi, bola tenis selalu berwarna putih. Akibat televisi, kostum tim olahraga menjadi lebih berwarna dengan nama pemain tertulis di punggung agar pemirsa televisi dapat mengenalinya. Keberadaan televisi membuat arena-arena olahraga outdoor kini dilengkapi atap yang dapat ditutup, guna mengantisipasi apabila terjadi hujan lebat. Penundaan pertandingan akibat hujan lebat akan mengacaukan jadwal tayangan televisi.

Artinya, kini tuan dari semua pertandingan olahraga adalah teleivisi. Sang tuan mungkin tak terlalu peduli bahwa penyesuaian itu akan membuat para aktornya, yakni para atlet, berada dalam kondisi tidak ideal. Yang terpenting, pemirsa terpuaskan.

Penilaian kritis disampaikan Richard Guilanotti (2006) yang memandang bahwa “sepakbola akan semakin mirip dengan olahraga Amerika, di mana TV ‘mengontrol waktu dan permainan’. Kalender sepakbola mungkin bisa rusak karena menyesuaikan dengan skedul TV dan pertandingan itu sendiri terpecah-pecah karena harus diisi dengan potongan atau slot iklan”. 

 

Artikel: kontakperkasa futures.