PT KONTAK PERKASA FUTURES – Yang nomor satu tak selalu kesatu. Yang pertama tak selamanya pilihan utama. Setidaknya, itu yang bisa kita petik dari apa yang menimpa Joe Hart di Manchester City.

Kedatangan Pep Guardiola membuat ia tak lagi menjadi kiper kesatu, meski jelas-jelas selama ini dirinya-lah pemilik nomor punggung satu. Hart bahkan hanya diproyeksikan sebagai kiper ketiga setelah Willy Cabalero dan Claudio Bravo yang datang ke Manchester Biru.

Sebagai pemain, Hart memang tak boleh selalu merasa terjamin. Enam musim terakhir selalu menjadi orang terakhir di pertahanan City, bukanlah jaminan ia tidak akan tersingkir. Turut mengantarkan Manchester Biru menjadi juara bukan berarti ia mendapatkan jaminan utama.

Apa yang diberikannya, dikorbankannya, dan ditunjukkannya selama ini tak akan ada artinya karena Hart hanya seorang pemain. Ia tetap tak memiliki hak preogratif selayaknya pelatih. Meskipun Pep, sang pelatih, terhitung orang baru di Etihad Stadium.

Ibarat Titanic yang besar nan megah, bukan alasan ia akan selalu tangguh tak akan bisa karam. Lautan dengan ombak bursa transfer dan badai persaingan kompetisi kemudian menenggelamkannya. Namun, bak senandung soundtrack Titanic juga, Hart mau tak mau harus mencoba bangkit dan bersenandung, “Joe Hart will go on and on.”

Dan, yang kemudian dilakukan Hart untuk bangkit adalah melakukan seperti apa yang pernah diutarakan So Hok Gie sebagai pedoman untuk dapat terus berevolusi, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Hart memilih Italia yang selama ini terkenal asing bagi pemain Inggris. Torino dijadikan pilihan yang lebih baik baginya demi selalu tampil di bawah mistar. Baginya, itu lebih baik ketimbang bertepuk tangan untuk City di bangku cadangan atau tribun penonton, sementara hati menggerutu. Munafik.

Masih dipercayanya dia sebagai kiper utama sekaligus nomor satu tim nasional Inggris oleh Sam Allardyce, membuat ia harus memilih diasingkan sementara waktu. Minimal semusim sembari menunggu Pep benar-benar percaya padanya atau tersandung (tanpa prestasi dan dipecat, bisa saja). Semuanya demi kebangkitan, baik Inggris atau pun demi kemampuannya secara pribadi. Untuk sebuah senandung, “Joe Hart will go on and on.”

Menjatuhkan pilihan pada Torino sejatinya adalah pilihan tepat bagi Hart. Meskipun Torino hanyalah tim papan tengah dari kompetisi yang kini juga tak bisa disebut lebih baik dari Inggris, tapi Italia akan lebih mendukung Hart dalam upaya pembuktian serta kebangkitannya itu.

Sebagaimana pendapat yang sudah umum, sepakbola Italia dikenal lebih bertaktik ketimbang Inggris yang (hampir) melulu fisik. Italia punya fantasi dan furbizia yang penuh pemikiran, perhitungan, hingga muslihat. Sementara Inggris, kick and rush yang diembannya lebih memacu dengkul daripada otak.

Itu juga yang diungkapkan mantan koleganya di City, Micah Richards, kepadanya. Pemain yang juga pernah terbuang ke Fiorentina sebagai pemain pinjaman ini memang dimintai pertimbangan oleh Hart sebelum memilih Torino.

“(Italia) itu jauh beda dengan Inggris. Di sana lebih taktikal dan semua pemain punya peranan. Setiap hari, di latihan, kamu akan bekerja dengan taktik, dan kamu akan makin terasah. Atau dengan kata lain di sana tak fisik melulu. Di Italia adalah salah satu pengalaman terbaik dalam karierku,” ujar Richards yang kini berbaju Aston Villa itu pada The Guardian.

Richards ada benarnya. Kalau memang alasan Pep tak menjadikannya sebagai pilihan utama adalah taktik –yang katanya kiper harus ikut punya peran dalam serangan– Italia memang tempat yang tepat bagi Hart. Toh, Pep sendiri pernah bermain di Serie A selama di ujung kariernya sebagai pemain. Bukan tak mungkin, si pelatih ini mulai terserang kecanduan taktik sejak bermain untuk Brescia dan AS Roma.

Satu lagi dukungan bahwa Hart akan go on and on di Italia datang dari eks bek tim nasional Inggris, Tony Dorigo. Mantan pemain Torino di musim 1997-1998 ini menilai kalau Hart akan semakin sibuk di lapangan Italia. Dan itu artinya, Hart akan lebih terasah.

Dorigo, yang kini malah menjadi pundit untuk tayangan Serie A itu, menilai pergantian pelatihlah yang menjadi penyebab kerja ekstra keras yang bakal dilakukan Hart. Perginya Giampero Ventura ke Gli Azzurri dan beralihnya jabatan allenatore Torino ke Sinisa Mijhailovic membuat banyak pemain baru berdatangan. Alhasil, masa-masa adaptasi antarpemain dan antar lini yang akan memberi pelajaran kepada Hart.

“Torino adalah tim yang paling banyak berubah. Mereka mendapatkan pemain bagus, tapi mereka juga kehilangan pemain bagus juga. Jadi, Hart akan lebih sibuk,” tambahnya.

Dukungan suporter Torino, yang lebih ekstrem jika dalam Derby Turin —derby yang banyak dibilang lebih panas ketimbang Derby Manchester–, juga dinilai Dorigo akan meningkatkan mental Hart. “Suporternya akan memberikan kekuatan tersendiri saat mereka di belakangmu, tapi kau akan merasakan tekanan dari mereka setiap saat,” tambahnya.

Dukungan dari para Englishman itu sudah memantapkan Hart untuk memilih Torino. Dukungan dari publik Inggris, pastilah ada. Karena ia juga masih kiper utama The Three Lions, meskipun harus terasing jauh dari negerinya. Akan banyak juga yang mendukung agar bangkit dalam untaian senandung theme song film Titanic: “Near, far wherever you are. I believe that Joe Hart does go on”.

Jadi, kalau boleh berpesan pada Hart, jangan kecewakan mereka yang telah bersenandung mendukung untuk kebangkitanmu. Mulai penggemarmu, kolegamu, hingga pendukung tim nasional Inggris. Atau minimal jangan kecewakan lagi orang-orang yang telah dikecewakan Pep selama tiga laga pembuka musim ini.

Yaitu, orang-orang yang termasuk dalam 3% pemilik Joe Hart di Fantasy Premier League selama tiga pekan terakhir. Orang-orang yang kini harus ikut terkena pengurangan poin demi ikut menjualmu. Dan itu, aku, salah satunya. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES