The Game of Their Lives 2002Bagaimana jadinya jika Korea Utara, sebuah negara komunis yang tertutup dari dunia luar, ternyata pernah dicintai warga Inggris?

Kejadian itu tertuang dalam film dokumenter berjudul The Game of Their Lives yang diproduksi BBC pada 2002. Film tersebut mengisahkan perjalanan Korut di putaran final Piala Dunia 1966 yang memang dilangsungkan di Inggris. Secara mengejutkan, Korut berhasil melaju sampai babak perempatfinal.

Keberhasilan mereka menembus babak perempatfinal merupakan kejutan. Datang sebagai underdog, Korut mendapat simpati yang besar dari publik Middlesbrough, Inggris. Sebagai kota dengan mayoritas kelas pekerja, kesederhanaan dan keramahan para punggawa Korea Utara, benar-benar disukai masyarakat Middlesbrough. Sampai-sampai, ada yang sengaja berangkat ke Wembley, untuk mendukung Korut di perempat final Piala Dunia.

Korut meraih tiket ke Piala Dunia mewakili Asia setelah mengalahkan Australia dengan skor fantastis 6-1. Keberhasilan ini ternyata sempat membingungkan pemerintah Inggris. Tak lain karena kedua negara tidak memiliki hubungan diplomasi. Korut pun dipandang penuh curiga.

Kecurigaan itu akhirnya sirna ketika Korut mendarat di Inggris. Berdasarkan pengundian, mereka menempati grup D bersama Uni Soviet, Chile, dan Italia. Seluruh pertandingan grup D akan dilangsungkan di Stadion Ayresome Park, Middlesbrough.

Ternyata, sambutan publik Middlesbrough terhadap Korut begitu besar. Sampai-sampai, ada yang membuat bendera negara itu untuk dikibarkan di stadion. Meski kalah telak dengan skor 0-3 dari Uni Soviet di laga awal, Korut berhasil menjaga asa untuk lolos ke perempatfinal dengan menahan Chile, 1-1. Mereka mutlak harus menang dalam pertandingan terakhir menghadapi tim unggulan, Italia.

Didukung oleh mayoritas penonton, Korut berhasil memenangi pertandingan dengan skor tipis 1-0. Gol dicetak oleh Park Do Ik. Padahal saat itu Italia diperkuat nama-nama terkenal seperti Giacinto Facchetti, Gigi Rivera dan Sandro Mazzola. Semua yang ada di stadion turut gembira. Korut benar-benar membius publik Middlesbrough dengan permainan cepat mereka.

Kenangan di Middlesbrough ternyata harus berakhir. Pertandingan perempat final dihelat di Stadion Goodison Park, Liverpool. Di sini, mereka mendapat “gangguan” dari simbol-simbol keagamaan yang ada di sana. Ini yang membuat para pemain hilang konsentrasi. Belum lagi masalah dengan penginapan. Para pemain dipisahkan satu sama lain. Padahal, mereka biasanya disatukan di dalam satu asrama. Ini dilakukan untuk membentuk kebersamaan antarpemain.

Upaya Korea Utara untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia pun mesti kandas. Di partai perempat final, mereka dikalahkan Portugal 5-3, setelah sempat unggul 3-0 hingga menit ke-27. Gol pertama yang dicetak oleh Park Seung Zin begitu mengejutkan karena dilakukan saat pertandingan baru memasuki detik ke-55.

Keunggulan 3-0 pada 27 menit pertama ini selalu dikenang sebagai salah satu momen menakjubkan dalam sejarah Piala Dunia. Portugal adalah tim unggulan, terutama karena diperkuat Si Black Pearl, Eusebio. Eusebio sendiri yang mencetak 4 gol berturut-turut sebelum ditutup oleh gol Augusto.

Jangan heran jika Korea Utara disambut bak pahlawan oleh publik Pyongyang. Baru saja turun dari pesawat, mereka langsung dikalungi bunga, dan disebut-sebut sebagai pahlawan negara.

Faktor Kim Il-Sung menjadi vital dalam narasi film ini. Ia adalah pemimpin Korea Utara semenjak negara tersebut resmi dideklarasikan pada 1948, hingga kematiannya pada 1994. Il-Sung adalah sosok yang amat dipuja rakyatnya. Ia sukses mengultuskan dirinya lewat media massa, maupun propaganda. Hasilnya terlihat hingga saat ini. Kim Il-Sung adalah sosok yang tidak mungkin tergantikan di masyarakat Korut. Bahkan, ia didapuk sebagai “Eternal Leader” atau pemimpin seumur hidup. Banyak adegan yang diambil di Korut yang memperlihatkan betapa dominannya Kim Il-Sung di sana. Mulai dari patung, lencana, hingga foto yang diberi figura di rumah para pemain Korea.

Keberhasilan Korea Utara menapaki babak perempat final Piala Dunia 1966 tidak lain adalah dorongan “motivasi” dari Il-Sung. Sebelum berangkat ke Inggris, ia mengumpulkan seluruh pemain, dan memberikan mereka wejangan-wejangan khusus.

Bek Rim Jung Son mengatakan rekan setimnya termotivasi oleh ucapan The Great Leader, kala tertinggal dari Chile di pertandingan kedua. Il-Sung mengharapkan para pemain memenangi satu atau dua pertandingan, dan menjadikan mereka sebagai wakil Asia yang diperhitungkan.

Meski banyak pihak yang membenci ideologi komunis, tapi Gordon tidak mengangkat ini sebagai topik utama dalam film dokumenternya. Ia seolah ingin memberitahu bahwa dengan 64,3% masyarakat tidak menganut agama, masyarakat Korea Utara menjadikan Il-Sung sebagai sosok yang mesti diagungkan. Ini juga karena filosofi Juche yang dikembangkan Il-Sung sebagai fondasi negara Korut.

Gordon terkesan netral dalam konflik Korea Utara dan Korea Selatan. Ia bahkan terlihat mendukung Korea menjadi satu kesatuan. Persatuan ini tergambar dari sekian adegan yang menunjukkan betapa menderitanya kedua belah pihak ketika perang berlangsung. Demikian dari wawancara penjaga perbatasan Korea Utara. Gordon memilih untuk mengangkat jujurnya warga Korut yang mengakui mereka ketinggalan dalam banyak hal ketimbang Korea Selatan.

Sebagai negara yang tertutup dan kerap mendapatkan sorotan negatif dari media barat, BBC mencoba menjelaskan keadaan sosial di Korea Utara secara umum. Bagaimana masyarakatnya menempatkan The Great Leader mereka, di tempat yang begitu agung. Bahkan, kesuksesan Korut menembus babak perempat final Piala Dunia pun, berkat dorongan motivasi dari Kim Il-Sung.

Layaknya sebuah film dokumenter, The Game of Their Lives berkisah dengan jujur dan apa adanya. Para mantan pemain sepakbola ini, tidak diwawancarai secara bersamaan. Mereka berbicara satu persatu di tempat yang berbeda. Dengan cara seperti ini, mereka akan merasa lebih bebas dan lebih nyaman dalam mengungkapkan apa yang mereka pikirkan.

Petikan wawancara ini juga menjadi sajian pembuka dan penutup, lengkap dengan kutipan pemain bersangkutan. Penggawa yang pertama bicara adalah Pak Do Ik, pemain tengah bernomor punggung tujuh. Format wawancara umumnya sama, mereka memperkenalkan nama dan nomor punggung ketika bermain di Piala Dunia. Mereka lalu menceritakan hal-hal yang menarik, sisi lain dari pemberitaan media.

Cerita diawali dengan potongan gambar ketika Korea Utara mencetak gol ke gawang Italia. Sebuah momen emosional bagi mereka karena mampu menuntaskan amanat The Great Leader, Kim Il Sung. Sebelum keberangkatan ke Inggris, Il-Sung meminta para pemain setidaknya memenangkan satu atau dua pertandingan.

Kisah pun berlanjut dengan sejumlah pemain yang dikumpulkan di Stadion Kim Il-Sung untuk bernostalgia tentang kesuksesan mereka 36 tahun silam. Tidak lupa, belasan lencana kehormatan, turut dilekatkan di jas yang mereka kenakan.

Ada yang unik dari The Game of Their Lives. Sebelum masuk ke bagian wawancara dengan kiper Korea Utara, Ri Chan Myong, tim dari BBC sempat mengunjungi Panmunjon, daerah yang berbatasan dengan Korea Selatan. Mereka lantas mewawancarai salah seorang penjaga perbatasan dan memintanya berkomentar. Penjaga tersebut menganalogikan posisi penjaga gawang dengan penjaga perbatasan. Dua-duanya sama-sama menjaga kehormatan dan keselamatan negara.

Gambar lalu berpindah pada penjaga yang menunjukkan titik perbatasan tersebut. Sambil menunjuk, ia berkata, “Korea Utara dan Selatan telah terpisah lebih dari 50 tahun. Itulah yang menyebabkan kami menderita. Jika Utara dan Selatan menjadi satu tim, kami akan melakukannya dengan baik. Dua negara telah terpisah. Itu yang membuat pengembangan dari sisi olahraga, politik, dan sistem sosial menjadi sulit,” tuturnya.

Sebuah ucapan yang sangat jujur dan sulit dibayangkan akan keluar dari mulut militer Korea Utara. Bagaimana gengsi kedua negara yang terpisah puluhan tahun ternyata menjadi bumerang bagi Korea Utara, dan itu diakui oleh mereka. Secara teknologi dan sistem sosial, mereka jauh ketinggalan ketimbang saudaranya di selatan. Beberapa kali pula, kamera BBC menyorot pada sebuah poster bertuliskan “Korea is One”.

Namun, ada hal yang mengganggu, terutama alih bahasa dari Korea ke Bahasa Inggris. Ketika pemain Korea Utara berbicara panjang lebar, terjemahan yang diberikan ternyata pendek-pendek. Tidak ada emosi yang keluar dari kata-kata tersebut. Lazimnya, orang Korea selalu memberikan emosi dan penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulur mereka.

Kelemahan kecil ini tertutupi dengan baik, terutama lewat scoring yang dipadukan dengan tata suara yang apik. Daniel Gordon mengemas tata suara dengan begitu apik. Ia menggabungkan efek suara yang biasa digunakan, dengan musik yang dimainkan secara live. Selain itu, Gordon juga kerap menyisipkan suara komentator pertandingan. Tentu ini membuat suasana pertandingan menjadi lebih semarak dan tensi pertandingan lebih terasa.

Lebih unik lagi, Gordon memperlihatkan bagaimana musik tradisional itu dibuat. Sesekali, ia menyelipkan gambar anak-anak sekolah dasar yang memainkan alat musik Korea Utara, Gayageum, sejenis kecapi dengan 12 senar. Musik yang dihasilkan terdengar begitu jernih dan memukau, terutama jika melihat yang memainkannya adalah anak-anak SD.

The Game of Their Lives — ber-tagline The Greatest Shock in World Cup History–adalah dokumenter yang layak ditonton. Tidak hanya bagi penggemar sepakbola, tapi juga sebagai perkenalan kepada dunia, bagaimana rupa Korea Utara yang sebenarnya. Narasi yang dibacakan simpel dan langsung pada poinnya.

Sebuah dokumenter sederhana nan jernih dengan proses pembuatan yang rumit. Bayangkan, BBC harus menunggu waktu empat tahun lamanya agar bisa untuk mendapatkan izin resmi masuk ke Korea Utara. Begitu izin itu keluar, BBC tidak menyianyiakan kesempatan ini.

Keterangan Film

Judul: The Game of Their Lives
Produser: Daniel Gordon
Produser Eksekutif: John Battsek, Richard Klein
Produser Pendamping: Nicholas Bonner.
Penulis Skenario: Daniel Gordon
Narator: Daniel Gordon
Sutradara: Daniel Gordon
Durasi: 80 Menit
Tahun Rilis: 2002

Artikel: kontakperkasa futures.