tim8

Tim Nasional Indonesia berhasil berada di peringkat ke-8 pada Turnamen Homeless World Cup 2013, setelah kalah penalti 7-8 dari Rumania.  Turnamen  yang berakhir 18 Agustus 2013 (waktu setempat), di Danau Malta, Poznan, Polandia ini banyak mengkisahkan cerita haru dan membanggakan.

Homeless World Cup merupakan ajang kejuaraan sepak bola yang diikuti dari berbagai negara di dunia, diadakan khusus bagi kaum marginal.  Turnamen kali ini diikuti oleh 70 negara dan 250.000 pemain. Para pemainnya berlatar belakang komunitas termarjinalkan/dikucilkan oleh masyrakat, orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), mantan pecandu narkoba/alkoholik, tunawisma,dsb.

Homeless World Cup didirikan tahun 2001 oleh Mel Young and Harald Schmied dan turnamen kali pertama digelar tahun 2003 di Kota Graz, Austria. Dengan tujuan menyatukan kaum tunawisma dan marjinal di seluruh dunia. Menurut Mel Young and Harald Schmied, dengan Sepak Bola, mereka dapat menyatukan kaum tunawisma dan marjinal dari seluruh dunia. Terbukti dari kegiatan ini banyak kisah para partisipan – terutama dari para pemainnya,  yang dapat mengubah kehidupan masa depannya menjadi lebih baik. Dan mereka bersatu di lapangan hijau, saling memberikan semangat, saling memperkenalkan budaya, saling berbagi, saling membawa nama bangsa ,dll.

Mengubah kehidupan menjadi lebih baik, seperti Anda ketahui, itu merupakan hal yang membutuhkan semangat, perjuangan dan proses panjang, sekaligus support dari orang-orang sekitarnya, termasuk masyarakat. Apalagi bagi para kaum marjinal – kedudukan mereka masih banyak dicibir, bahkan ditinggalkan oleh masyarakat. Sebut saja kaum tunawisma, banyak kejadian mereka ditindas, tidak diperhatikan hak-nya oleh negara dan masyarakat. Begitu pula dengan para mantan pecandu dan ODHA (orang dengan virus HIV/AIDS), tidak dipungkiri masyarakat kita masih memandang dengan sebelah mata, bahkan banyak yang mencerca dan menganggap mereka tidak pantas hidup dan dibantu.

Kebanyakan masyarakat Indonesia tidak tahu, bahwa peringkat tertinggi (berdasarkan data 2013), orang-orang yang terkena virus HIV/AIDS berlatar belakang Ibu Rumah Tangga, kemudian diikuti Pekerja seks komersial (PSK), kaum homo, pecandu narkotik jarum suntik dan terakhir bayi-bayi atau anak-anak yang tertular melalui air susu Ibu. Sepertinya Anda perlu membuka mata dan hati untuk memandang mereka sebagai manusia yang sederajat dengan kita. Kehidupan mereka tidak mudah, men-judge mereka berarti Anda tidak aware terhadap kehidupan Anda sendiri, bayangkan jika hal ini terjadi pada Anda atau keluarga Anda. Apa yang Anda akan lakukan? (Jangan bilang Anda seorang yang bersih, bermoral baik, dan bla-bla-bla lainnya).

Kembali lagi ke ajang Homeless World Cup, Tim Nasional sepak bola Indonesia telah mengikuti kegiatan turnamen ini sejak tahun 2010 hingga 2013.  Di tahun ini mereka berhasil berada di peringkat 8 besar -satu-satunya tim dari Asia yang berhasil masuk 8 besar. Berawal dari sebuah mimpi, “Mengubah Sitgma dan Diskriminasi masyarakat terhadap HIV/AIDS dan kaum marjinal”, hingga membawa kaki-kaki mereka menapak ke negeri -negeri belahan dunia.

Tim nasional Indonesia ini digawangi oleh Rumah Cemara, yang aktivitas pergerakkannya banyak di bidang HIV/AIDS dan Adiksi. Semula keinginan mengikuti Homeless World Cup banyak mengalami kesulitan, hambatan dan minim dukungan. Dari sekompok kecil, mereka mencari dukungan dan sponsor kemana-mana. Awalnya mereka mendapat dukungan moril dan materi dari para penduduk sekitar Geger Kalong, Bandung , karena usaha orang-orang yang berada di bawah naungan Rumah Cemara (RC) tak pernah kenal kata patah semangat dan lelah, akhirnya mereka mendapatkan dukungan dan sponsor dari Pejabat Daerah, Pengusaha, LSM, , Media dan lainnya. (Sampai saat ini mereka masih mencari dukungan dari masyarakat luas).

Tim Indonesia Mengheningkan Cipta

Para pemainnya terdiri dari anak-anak terlantar/gelandangan/tunawisma, para ODHA dan mantan pecandu. Pemainnya tidak berasal dari Kota Bandung saja, melainkan juga dari Bali, Medan, Makassar, Jakarta dan kota-kota lainnya. Pemain yang dipilih selain berdasarkan kualitas skill dan kemampuan, motivasi, niat dan keinginan besar juga diperhitungkan. Tim ini dilatih oleh Bonsu Hasibuan.  Pemain dibentuk melalui latihan rutin, latihan mental , spiritual, dan peningkatan kualitas permainan dan hidup. Mereka dilatih cukup keras dan penuh disiplin. Tidak hanya dilatih di lapangan rumput hijau saja, tetapi juga di alam terbuka, seperti pegunungan.

Di ajang tahun ini, timnas diperkuat oleh Ujang Yakub (Keeper), I Wayan Arya Renawa, Ahmad Faizin, Dimas Saputra Ramadhan, Mifta Sano Sudrajat, Ricky Irawan, Nico Pernando, dan Sendi (setiap tahun pemain harus berganti karena ketentuan HWC) .Perjuangan mereka patut dibanggakan, karena untuk melalui putaran pertama (mengalahkan Tim Argentina), putaran kedua hingga berada di peringkat 8 adalah tidak mudah. Tim pesaing cukup tangguh, misal berhadapan denganTim Rusia-yang membawa timnas maju ke babak selanjutnya dan juga melawan juara bertahan dari Chile.

Meski hanya bisa mendapatkan posisi ke-8, namun sang pelatih, Bonsu Hasibuan berpendapat, bahwa kualitas permainan timnas mengalami peningkatan. Selama pertandingan, para pemain timnas selalu tersenyum (penonton banyak menyenangi tim ini karena sering tersenyum), kekalahan bagi mereka adalah suatu proses yang mesti dihargai. Dan proses itu adalah suatu kemenangan yang berharga dan tak ternilai bagi hidup mereka. Bahkan ada pendukung dari Indonesia menilai, bahwa perjuangan teman-teman di Homeless Worls Cup ini merupakan hadiah terindah buat Dirgahayu Bangsa Indonesia.

TimIndonesia Stelah Pengalungan medali

Di kala Bangsa ini sedang mengalami banyak “krisis” dari berbagai hal, mereka-timnas yang mengharumkan nama bangsa -tapi tidak dilirik oleh Pemerintah Indonesia, mereka terus berjuang untuk negara dan mengubah kehidupan mereka tanpa berpaling. Mereka tidak peduli, kehadiran mereka di masyarakat masih banyak dicemohkan, malah melalui ajang dunia ini, mereka menunjukan bahwa Kaum marjinal (tunawisma, ODHA,mantan pecandu, dll) mampu berprestasi dan mengubah dunia jauh lebih baik (dibanding para pejabat yang hanya bisa berhasil korupsi).

Jauhi virus-nya, bukan orangnya”, “Support Don’t Punish“, adalah 2 jargon yang kerap mereka teriakkan, dengan harapan Stigma dan diskriminasi masyarakat Indonesia terhadap kaum marjinal, mampu terkikis di tanah bumi Indonesia. Mengubah perilaku negatif, itu yang harus direnungkan oleh masyarakat bersama.

Mari kita bersama-sama mendukung sekaligus mencintai kaum marjinal. Biar mereka diterpa oleh situasi dan kondisi yang berat, mereka tidak ingin patah dan sangat berkeinginan untuk hidup sehidup-hidupnya. Melalui ajang Homeless World Cup 2013, mereka membuktikan , bahwa mereka mampu berprestasi sampai ke tingkat dunia dan hidup selayaknya orang normal, dan kehidupan sebagai kaum marjinal (ODHA, pecandu, tunawisma), bukanlah akhir dari segalanya. Karena hidup adalah perjuangan, sudah sewajarnya  PROUD, RESPECT dan Tetap Mamprangg, dihadiahkan buat mereka.

 

Artikel: kontakperkasa futures.