Vidyah, Satu-satunya Relawan Piala Dunia 2014 dari IndonesiaAkan ada sekitar 15 ribu tenaga relawan (volunteer) di Piala Dunia 2014 di Brasil. Dari 152 ribu pelamar, hanya satu dari Indonesia yang akhirnya terpilih.

Sang terpilih itu adalah Vidyah Payapo Al Qadary, wanita 23 tahun yang baru lulus kuliah S1 di Universitas Paramadina, Jakarta, jurusan Hubungan Internasional.

Vidyah pun mengisahkan asal mula dirinya bisa memenangai “kompetisi” tersebut, termasuk bahwa dirinya bahkan mendaftarkan diri di “injury time”, namun justru berhasil.

“Jadi waktu itu bulan September iseng buka web, ternyata ada pendaftaran jadi volunteer Piala Dunia. Saya coba, kebetulan itu pendaftaran yang terakhir. Pertama saya isi formulir via online lalu saya kirim. Waktu itu cuma ada perasaan, mudah-mudahan saya lolos,” ungkap Vidyah.

Setelah melewati proses pendaftaran awal, tak disangka-sangka Vidyah mendapatkan balasan sebulan kemudian melalui email dari pihak panitia Piala Dunia 2014. Mereka meminta wawancara langsung dengan dia lewat video call atau skype.

Dalam wawancara tersebut Vidyah diminta menjawab pertanyaan dari berbagai hal. Dikiranya bakal banyak ditanya soal sepakbola, wawancara tersebut ternyata lebih mengarah ke tes psikologi.

“Tanggal 22 November akhirnya saya wawancara via Skype oleh panitia di Brasil selama setengah jam tepat pukul 12 malam. Tesnya sih lebih ke psikotes. Misalnya, bagaimana sih menghadapi orang yang tidak sabaran. Kamu itu pemimpin seperti apa, pengalamannya apa saja. Lebih ke personal.”

Tak sampai di situ, Vidyah juga harus menjalani tes yang lain, yaitu soal bahasa. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang volunteer yaitu mampu menguasai beberapa bahasa, yakni Inggris, Spanyol dan Latin.

Beruntung bagi Vidyah, sebab dia memang sudah mahir dalam banyak bahasa. Selain mampu berbahasa Inggris, Spanyol, dan Latin, dia sampai mengikuti les bahasa Portugis demi Piala Dunia 2014.

“Selain bahasa juga ditanya soal FIFA dan soal Brasil. Saya menjawab semua dengan baik. Alhamdulillah, bahasa Spanyol, saya sudah belajar sejak dua tahun lalu. Tapi kalau bahasa Portugis, saya baru belajar beberapa bulan lalu. Bahasa Portugis dan Spanyol hampir sama, hanya beda sedikit saja.”

Sejak mendaftarkan diri jadi volunteer, Vidyah memiliki banyak teman dari berbagai negara. Diskusi dalam sebuah forum, dia bisa bercakap-cakap membicarakan banyak hal.

“Akhirnya saya sekarang punya banyak teman, dari Spanyol, Kolombia, Malaysia juga ada, Singapura dan Argentina. Kami waktu itu selalu berkomunikasi.”

Setelah dibuat harap-harap cemas menunggu pengumuman selama berbulan-bulan, tepat pada 24 April lalu Vidyah akhirnya dihubungi kembali oleh pihak panitia. Dia mendapatkan email yang menyatakan bahwa dia terpilih menjadi volunteer Piala Dunia 2014.

Betapa senang dan bangganya Vidyah ketika itu, mengingat dari 152 ribu orang dari berbagai negara yang mendaftar jadi volunteer, hanya 15 ribu yang diterima termasuk dia.

“Perasaan saat itu sangat luar biasa. Karena tidak percaya akhirnya bisa lolos. Seperti mimpi yang jadi kenyataan. Sampai sempat terdiam, benar gak sih,” tutur dia sembari tersenyum.

Setelah terpilih, Vidyah juga sudah melaporkan diri ke Kedubes Brasil di Jakarta. Dalam laporannya, tercatat hanya dia WNI (Warga Negara Indonesia) yang berangkat ke Piala Dunia sebagai relawan.

“Dari kedutaan Brasil, ya cuma saya. Wah, tambah semangat dan tentunya sangat bangga.”

Bagaimana tidak, Vidyah memang sejak kecil bermimpi bisa berkunjung ke Brasil. Meski hanya sebagai volunteer, yang terpenting menurutnya bisa menyaksikan sekaligus berpartisipasi di event Piala Dunia di Brasil.

“Saya tuh suka banget sama Brasil. Itu negara impian saya, negara idola saya. Tim sepakbola kesukaan saya dari kecil. Bahkan dulu ingin sekali dapat beasiswa di sana. Tapi ini jalannya lain, seperti mimpi yang jadi kenyataan. Pengalaman yang tidak akan bisa terulang. Bisa dapat banyak teman. Apalagi, harus berhadapan dengan Piala Dunia bisa jadi panitia,” kata wanita asal Ambon itu.

Selamat ya!

Artikel: kontakperkasa futures.